ja-cpanel-top
English (United Kingdom)Indonesia

Film Dokumenter Inspiratif Working Girls Mulai Tayang


Kalyana Shira Foundation kembali dengan project change. Proyek ini bertujuan untuk membentuk sineas-sineas muda berbakat, khususnya di film dokumenter.


Project Change yang merupakan proyek bersama antara Kalyana dan Ford Foundation, sejak 2008 lalu selalu bisa menghasilkan film dokumenter yang menarik dan inspiratif.

Tahun ini, Project Change siap melakukan perubahan melalui filmnya Working Girls.Film ini merupakan karya 5 sineas hasil seleksi dari 29 peserta workshop Project Change.

Seperti judulnya, Working Girls mengangkat tema wanita pekerja yang membuat perubahan untuk hidupnya, mimpinya, dan lingkungan sekitarnya.

Ada 3 cerita dalam film berdurasi 120 menit ini, yaitu 5 Minutes ah..ah..ah, Windless Rhapsody, dan Ulfie Pulang Kampung ( Ulfie Goes Home).

5 Minutes ah..ah..ah dibesut oleh Sammaria Simanjuntak dan Sally Anom Sari menceritakan tentang seorang penyanyi dangdut remaja bernama Ayu Riana, yang menjadi tulang punggung keluarga setelah memenangkan hadiah utama sebuah kontes dangdut televisi di tahun 2008. Cerita ini menyorot problematika yang dihadapi Ayu dan keluarga dalam mensukseskan karir menyanyi Ayu.

Asal Tak Ada Angin menceritakan kehidupan perjuangan sekelompok pegiat kesenian tradisional Ketoprak Tobong Kelana Bhakti Budaya yang harus berjuang mencari nafkah di tengah idealisme mereka untuk menjaga nilai budaya yang mereka yakini. Dokumenter ini dibesut oleh Yosep Anggi Noen.

Ulfie Pulang Kampung ( Ulfie Goes Home) arahan Daud Simolang dan Nitta Nazyra C. Noer, mengangkat kehidupan seorang waria bernama Ulfie, ODHA yang berjuang menghidupi dirinya dan keluarganya. Setelah empat tahun tidak pulang ke kampung halamannya di Aceh, dia pun memutuskan pulang, meski dia sadar keputusannya itu bisa mengundang bahaya bagi dirinya, mengingat Aceh adalah sebuah daerah dengan penerapan syariat yang kuat.

Ketiga tema yang diangkat di Working Girls memiliki benang merah yang sama, perempuan bekerja yang ingin melakukan perubahan besar dalam hidupnya.

" Film ini memang merupakan salah satu cara kita untuk melakukan perubahan. Sesuai dengan nama proyek yang melahirkan Working Girls, Project Change. Kita nggak muluk-muluk, semoga dengan menonton film ini, se-enggak-nya paradigma pemikiran penonton dulu," ujar Nia Dinata dalam press conference Working Girls, Sabtu (1/7) siang di Metropole XXI, Jakarta.

Sineas-sineas muda yang dipilih pun adalah sineas yang dinilai memiliki gairah, minat dan konsistensi dalam mengikuti proyek ini dan pernah membuat film pendek sebelumnya.

"Yang ngajuin lebih dari 59 orang untuk ikut workshop Project Change. Kemudian terpilih 29 orang. Nah dari 29 orang itu, ada yang mundur, jadinya mengerucut hingga kepilih yang sekarang ini karyanya bisa dilihat. Mereka terpilih karena merka memiliki drive dan minat yang besar terhadap film," ujar wanita yang akrab disapa Teh Nia ini.

Sementara itu, memfilmkan berbagai kisah dalam Working Girls diakui para pembuatnya cukup sulit. Mulai dari meyakinkan objek yang akan "dipinjam" kehidupannya, sampai pertentangan yang dilakukan masyarakat.

" Bikin film dokumenter ini nggak kayak bikin film naratif. Tantangannya banyak banget. Dan bikin film dokumenter itu, kita nggak bisa nebak , ceritanya akan dibawa kemana. Karena ini murni perjalanan hidup yang direkam," ujar Sally yang membesut 5 Menit Ah..Ah..Ah.

Berbeda dengan Nazyra C. Noer yang mengarahkan Ulfie Pulang Kampung. Ia mendapat tentangan ketika mengangkat kisah hidup Ulfie dari rekan-rekan Ulfoe sesama waria di Aceh.

"Ketika syuting di Takengon, Aceh, kampung Ulfie, keluarganya justru mendukung. Kita malah sempat dapat semacam perlawanan dari teman-teman Ulfie, yang masih sungkan untuk diekspos kisah hidupnya," ujar Nazyra.

Tak berhenti sampai disitu, kesulitan juga dialamani Nia Dinata saat harus menentukan bagian mana yang harus dimasukkan dan tidak ke dalam film.

"Ada sekitar 100 rekaman yang masing-masing berdurasi 60 menit. Bayangin aja, begitu susahnya memilah mana yang harus dipotong, mana yang nggak, untuk jadi durasi yang bisa ditonton saat ini.", jelas Teh Nia lagi.

Kendala lainnya adalah, keterbatasan dana untuk menggandakan kopi film ke format millimeter.

"Dana kita terbatas untuk mentransfer ke format milimeter. Makanya kita cuma bisa menggandakan 3 kopi saja. Untuk tayang di Jakarta, Malang, dan Malang untuk di jaringan 21. Kalo di Blitz, yang bisa format digital, ada di Bandung dan Jakarta," tambah Nia.

Working Girls bisa disaksikan di Jakarta, Bandung, Malang dan Yogyakarta mulai 1 Juli 2011.

sumber : www.boleh.com

 

 

Article

Memandang masalah dengan Perspektif Perempuan Memandang masalah dengan Perspektif Perempuan ... More detail
 

Events

16 November 2015
Master Class Project Change 2015 Halo Filmmaker! Ayo memperdalam ilmu membuat film dokumenter dan naratif pendekdi Master ... More detail
11 April 2014
Festival Film PEREMPUAN PUNYA CERITA (CHANTS OF LOTUS) NO Festival Name 1 B... More detail
18 January 2011
Masterclass Project Change 2008 Masterclass Project Change 2008 RILIS PERS WORKSHOP FILM DOKUMENTER: FILM UNTUK PERUBAHAN KONDISI PEREMPUAN Jakarta... More detail
18 January 2011
Masterclass Project Change 2009 RILIS PERS Workshop Masterclass Project Change! 2009 Tahun 2008 yang lalu Kalya... More detail

Instagram

You are here: Film Dokumenter Inspiratif Working Girls Mulai Tayang