ja-cpanel-top
English (United Kingdom)Indonesia

Memandang masalah dengan Perspektif Perempuan

E-mail Print PDF

Memandang masalah dengan Perspektif Perempuan Memandang masalah dengan Perspektif Perempuan
Mengemukakan masalah ada caranya. Cara itu erat sekali terkait dengan cara pandang dan kerangka pikir kita. Keduanya akan memberi kita arah dalam memendang masalah, dan sering disebut dengan perspektif. Salah satu perspektif untuk mengungkap masalah sosial-ekonomi budaya yang tinggi tingkat kejelian, kejituan dan kekritisannya adalah perspektif perempuan. Apa artinya?

Melihat dengan cara pandang perempuan :

  • cara pandang yang acap terpinggirkan dalam mainstream, oleh karena itu dalam aliran berpikir dikategorikan sebagai aliran kritis
  • berfikir kritis mensyaratkan metode pembongkaran (dekronstuksi) sehingga tidak linier dan/atau positivis.
  • mendasarkan diri pada kekuatan pengalaman sebagai sumber pengetahuan (yang selama ini, oleh ilmu positivis dan mainstream dianggap subyektif, tidak rasional)
  • menyoal perempuan dan laki-laki secara relasional, bukan sebagai orang per orang secara sendiri-sendiri
  • Mengungkap pengalaman, persoalan di ranah privat (sphere) dan hubungan-hubungan politik (kuasa) pada relasi personal dan interpersonal. Personal is political.

Perspektif Peremuan dikenal juga sebagai perspektif gender

Perspektif Gender secara khusus mengamati:

  • Akses-akses yang dimiliki perempuan
  • Partisipasi/tingkat
    keterlibatan perempuan
  • Peluang pengambilan
    keputusan dan kendali
dibandingkan dengan laki-laki

 

Politisasi Agama, Film, dan Perempuan.

(Nia Dinata)

Di antara negara-negara yang mayoritas penduduknya beragama islam, baik yang menganut hukum syariah maupun yang sekuler, terdapat satu persamaan dalam 'sejarah awal karya-karya sinemanya, yaitu sempitnya ruang yang disediakan bagi perempuan. Bahkan dalam film bisu pertama di Iran 'Abi and Rabi' (1930), tidak ada satupun karakter perempuan. Perlahan perempuan kemudian muncul, walaupun selalu menjadi tokoh sub-ordinate, sebagai ibu rumah tangga atau anak yang ideal. Digambarkan dengan karakter pendiam, penurut dan penyabar, sebuah melancholic fantasy kaum laki-laki.

Di tahun '60 an - '70 an, film-film bertemakan perempuan-perempuan penghibur dan prostitusi menjadi sangat populer dan berhasil mencetak uangdi Turki. Perempuan digambarkan sebagai tokoh utama dengan karakter temptress/penggoda. Konon, ini adalah pengaruh sinema Hollywood yang dengan sukses menduniakan Marlene Dietrich, juga film-film seperti Salome, Cleopatra dan Carmen. Tidak hanya di Turki, Pakistan juga tertular sindrom ini, dengan box officenya yaitu Dancing Girl yang menceritakan tentang tokoh utama perempuan penghibur berhati emas. Sebagian besar dari film-film ini juga diakhiri dengan tokoh perempuan yang harus menghadapi kematian karena 'dosa dan perbuatannya'. Sebenarnya Indonesiapun memproduksi film sejenis di era yang sama, diantaranya adalah Noda Tak Berampun dan Bernafas Dalam Lumpur.

Perubahan politik dan rejim sangat berpengaruh pada perkembangan representasi perempuan dalam film Islam. Setelah revolusi Iran, Ayatollah Khomeini menyatakan dengan tegas bahwa Islam tidak bertentangan dengan sinema. Akan tetapi, isi dari sebuah karya harus sesuai dengan fikih. Begitu banyak sineas yang ditangkap karena karyanya dianggap mengkhianatih fikih. Dari 2200 film lokal dan internasional yang beredar di Iran, diseleksi ulang dan hanya 200 yang dianggap layak.

Untuk memberikan rasa aman dalam berkarya, sineas Iran sempat mengalami periode menghilangkan sama sekali tokoh perempuan dalam film. Di tahun 1980 an Darius Farhang membuat film The Spell yang menceritakan tentang tokoh utama seorang putri raja yang menghilang masuk ke dalam kaca di istananya, sehingga dalam film ini si jagoan perempuan tak tampak sama sekali. Sebagai jalan keluar yang cerdik, sutradara Iran seperti Abbas Kuriostami, Majid Majidi dan Jafar Panahi, memulai karirnya dengan menggunakan tokoh anak perempuan protagonis, bukan perempuan dewasa.

Di Indonesia saat itu, film dakwah sedang mengalami demand yang tinggi. Terutama film-film yang diperankan oleh raja dangdut Rhoma Irama. Namun dalam film-film dakwah ini, karakter perempuan tetap digambarkan sebagai objek. Apakah itu objek yang harus diselamatkan, objek penyebab konflik atau sekedar asesoris dari tokoh hero yang tentunya laki-laki, tak lain adalah sang raja dangdut tersebut.

Bahkan sampai masa reformasi dan paska reformasi, belum ada satupun film islam (film dakwah) Indonesia yang tokoh utamanya adalah perempuan. Seluruh konflik yang ada dalam film, selalu diselesaikan oleh tokoh utama si laki-laki. Perempuan, masih menjadi pengikut dan karakter yang rela berkorban demi cinta/ love interest , sebuah penggambaran ideal yang jauh dari realita.

Sensor juga tak dapat dipisahkan dengan kenyataan politik yang ada di negara-negara mayoritas penduduknya beragama islam, terlebih lagi negara dengan hukum syariah islam. Iran menggunakan istilah Guidance atau arahan bagi sinema, yang otoritas penuhnya dipegang oleh Kementrian Kebudayaan dan Pengarahan Islam. Motonya adalah supervisi, pengarahan dan dukungan. Dukungan dalam hal ini otomatis akan diberikan bagi film-film yang penggambaran terhadap perempuannya sesuai dengan fikih.

Hal ini tentu akan semakin menjauhkan sinema dengan realitas sosial yang dialami perempuan. Mokhsen Makhmalbaf, yang ingin memotret realita seorang perempuan melahirkan dalam filmnya Gabbeh, sampai harus memerankan sendiri tokoh perempuan tersebut. Ia memakai rok panjang dan diambil gambarnya dalam adegan melahirkan. Tentu saja adegan ini hanya untuk Gabbeh versi internasional dan tidak ia masukkan dalam Gabbeh yang ditonton secara domestik di Iran.

Dukungan Kementrian Kebudayaan dan Pengarahan Islam lebih sulit diraih oleh sutradara-sutradara perempuan Iran, terutama yang gigih memperjuangkan realitas perjuangan perempuan dengan penokohan utama perempuan. Namun hal ini tak membuat sutradara perempuan Iran patah arang. Samira Makhmalbaf mencuat namanya dengan karya-karya yang mendunia. Namun kritikus sinema islam, Gonul Donmez-Colin mengatakan bahwa:"Young Samira Makhmalbaf's accomplishment is a good example. However, only Tahmineh Milani and Rakhsan Bani-Etemad consistently address the issues of women in their films ". (Women's films, films About Women, 2003)

Tahmineh Milani harus menunggu lebih dari delapan tahun untuk mendapatkan persetujuan kementrian atas proposal filmnya yang berjudul Two Women, dengan perubahan di sana-sini. Dalam sebuah interview , ia mengaku bahwa sebelum revolusi, perempuan selalu digambarkan sebagai tokoh pelacur atau pembawa masalah bagi laki-laki, sekarang di masa paska revolusi, film Iran masuk kedalam perangkap untuk menokohkan perempuan sebagai suri tauladan, sesuai dengan ekspektasi penguasa. Padahal perempuan adalah manusia yang memiliki atribut positif juga negatif dalam karakternya.

Termasuk di Indonesia, sensor sangat mengkhawatirkan representasi perempuan atas hal-hal yang kritis atas statusnya, atas tubuhnya, atas hak-haknya. Ada apa dengan ketakutan terhadap representasi perempuan dan dunia islam? Khususnya di Indonesia saat ini?. Sebenarnya issue perempuan bukan saja menjadi issue Islam semata. Dunia yang telah tertanam paham patriarki beribu-ribu tahun lamanya, mengidentikkan perempuan dengan tubuhnya yang tabu dan harus selalu ditutup-tutupi karena hanya dilihat sebagai sebuah gerbang menuju perbuatan dosa. Tubuh perempuan telah terlalu lama secara sengaja diabaikan.

Sebagai negara yang menghargai demokrasi, harusnya Indonesia di masa paska reformasi menjadi lebih terbuka dalam mengajak masyarakatnya menjadi dewasa dan madani dengan menghargai kebebasan berekspresi, termasuk di dalamnya menghargai tubuh perempuan. Saat ini kecenderungan yang ada, khususnya dalam film, adalah menjadikan masyarakat takut akan kebebasan berekspresi dan takut akan tubuh perempuan. Kebebasan berekspresi dan tubuh perempuan diidentikkan dengan 'bahaya atau ancaman'.

Film-film islam pasca reformasi, masih diharuskan menjalankan misi dakwah, bukan memperlihatkan sisi objektif islam yang kritis terhadap fenomena yang berkembang di masyarakat islam sendiri. Kalau dulu di jaman orde baru film-film dengan tokoh utama perempuan yang dieksploitasi kebinalannya dibiarkan dengan sengaja, maka sekarang kecenderungan ini kembali hadir. Eksploitasi penokohan perempuan sebagai objek yang menggoda dalam film cenderung meningkat. Namun penokohan perempuan yang bukan penggoda, dilarang digambarkan beraktifitas seksual, dengan memakai baju lengkap sekalipun. Banyak orang berpendapat bahwa, dulu sensor mengemban tugas untuk sebuah rejim militer, sekarang sensor mengemban tugas demi menyenangkan rejim preman yang mengatas namakan agama.

Masyarakat Film Indonesia yang pernah berjuang di Mahkamah Konstitusi untuk menghapuskan pasal-pasal sensor dalam Undang-Undang Film no 8 tahun 1992, telah ditolak permohonanya. Ditolak bukan selalu berarti kalah berjuang, namun kesempatan yang diberikan MK kepada pemerintah dan DPR untuk merevisi Undang-Undang film tersebut bisa melepaskan Undang-Undang film ke tangan penguasa yang justru ingin mempolitisasi agama.

Tiga tahun sejak putusan MK dibulan Mei 2008, adalah tenggang waktu yang diberikan MK untuk membuat Undang-Undang Film baru. Dapatkah Undang-Undang film baru Indonesia mencerminkan demokrasi dan keberagaman bangsa ini?. Terlebih lagi dengan akan disahkannya RUU Pornografi yang menimbulkan kontroversi dan hanya mewakili kepentingan kelompok agama tertentu. Mungkinkah kita menjadi negara yang mengkontrol setiap pembuat filmnya, bahkan sampai penokohan karakter perempuannya, seperti di Iran?. Sebuah perjuangan telah dimulai oleh banyak individu, komunitas dan kelompok yang menghargai hak azazi manusia, keberagaman dan anti diskriminasi jangan sampai kita kehilangan arah dan menyerah.

RUU PORNOGRAFI

Membunuh Industri Kreatif, Seni dan Budaya
Oleh : Nia Dinata

INDUSTRI KREATIF
Ketika sumber alam sudah habis-habisan di eksploitasi, Indonesia termasuk bangsa yang berpotensi menjadi pionir di Asia Tenggara dalam mengembangkan Industri kreatifnya

  • Berkesenian telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari seluruh bangsa ini sejak jaman nenek moyang
  • Peninggalan-peninggalan bersejarah kita sangat kaya untuk dijadikan sumber inspirasi
  • Peninggalan cerita-cerita mitologi dan cerita rakyat juga sangat kaya dan masih sangat relevan dengan kehidupan masyarakat kontemporer saat ini

RUU Pornografi Berkaitan Erat Dengan Industri Kreatif

  • Definisi Pornografi dapat disalah artikan oleh individu-individu yang berbeda dalam melihat sebuah produk seni / creative product.
  • Hampir semua dari bentuk materi seksualitas yang dimaksud dalam RUU merhubungan langsung dengan produk yang dihasilkan industri kreatif, yaitu: gambar, sketsa, iliustrasi, foto, tulisan, suara, bunyi, gambar bergerak, animasi, kartun, syair, gerak tubuh.
  • Definisi 'membangkitkan hasrat seksual' sangat sempit dan keberagaman yang ada dalam masyarakat kita dapat menjadi bumerang bagi karya-karya kreatif yang sudah ada sejak dulu dan karya-karya yang akan dihasilkan kemudian.

RUU Pornografi dan Industri Film Nasional

  • Industri film Indonesia sedang dalam proses berkembang.
  • Untuk menata perkembangan menuju industri yang sehat, sebuah strategi kebudayaan (cultural policy) yang menjunjung tinggi keragaman budaya Indonesia dan kebebasan berekspresi dalam sebuah negara demokrasi belum terwujud.
  • Sementara itu, terdapat kecenderungan sekelompok pembela agama tertentu yang bersuara keras mengecam karya-karya sinema yang kritis dan jujur dalam mengangkat issue-issue sosial dan budaya.
  • Sangat berbahaya bagi industri film yang kreatif apabila pemerintah membatasi ruang gerak sineas Indonesia dengan memakai standar yang tidak jelas, hanya dibayangi ketakutan akan ancaman kelompok tertentu (bisa dilihat dalam lampiran risalah persidangan Masyarakat Film Indonesia untuk pengujian UU film di Mahkamah Konstitusi).
  • Keberadaan kelompok-kelompok tertentu yang mengatas namakan 'polisi moral' akan tumbuh dengan subur dengan disahkannya RUU Pornografi sehingga semakin membatasi ruang gerak sineas Indonesia dalam berkarya.
  • Akan semakin banyak sutradara dan sutradara dan penulis skenario yang hanya bertindak sebagai 'tukang' - yang akhirnya menghasilkan karya-karya yang seragam.
You are here: Archive Article Memandang masalah dengan Perspektif Perempuan