ja-cpanel-top
English (United Kingdom)Indonesia

Project Change! 2013 "EMAK DARI JAMBI"

E-mail Print PDF

SINOPSIS

Sebuah tiket ke Jakarta menjadi jawaban rindu Emak (Ibu Kurtini) pada Anak Pertamanya (Anggun Pradesha) yang sudah terpendam bertahun-­?tahun. Sementara pergi dari Kota Jambi, meninggalkan Suami dan Anak-­?anak yang menjadi tanggungannya untu k kali pertama terbang ke Ibukota. Bandara Soekarno-­?Hatta adalah saksi keterkejutan Emak bertemu Anggun. Kejutan terus berlanjut saat Emak disambut acara Tumpengan di tempat Anggun bekerja.

Emak masuk dalam dinamika hidup yang menurutnya tidak biasa. Kebersamaan dengan Anggun menjerat Emak pada rasa setengah sedih dan setengah senang. Curahan hati, pertanyaan dan menemukan jawaban merupakan Kisah Emak dalam dunia khas Anaknya yang adalah Seorang Waria.

DIRECTOR STATEMENT

ANGGUN PRADESHA

Berangkat dari banyaknya penyangkalan keluarga terhadap Takdir anaknya yang Waria, membuat saya dan Rikky berbalik pada konsep cerita yang sangat sederhana, yaitu Kisah Seorang Emak dari Jambi yang atas dasar rindu, datang dan masuk dalam kehidupan anaknya yang Waria di Jakarta. Saya berharap proses penerimaan dalam film ini dapat menginspirasi Para orangtua agar dapat menerima anaknya yang Waria, sehingga tidak perlu lagi ada konflik, tidak perlu lagi ada cerita Waria kabur dari Keluarga kemudian tahun­?- tahun berjalan Orangtua uring-­?uringan mencari-­?cari.

RIKKY M. FAJAR

Kehidupan waria perantauan yang sepi, sendiri, menghadapi menghadapi kerasnya Jakarta yang penuh penolakan dan stigma tanpa dukungan keluarga menjadi perhatian utama saya dalam mengangkat tema seksualitas ini. Diskriminasi berbasis orientasi seksual dan identitas gender kerap kali melanda waria. Keluarga yang seharusnya menjadi tempat nyaman, turut melakukan penolakan yang menyebabkan banyak waria hidup jauh dari keluarga.

Kurtini adalah satu dari sedikit ibu hebat yang pernah saya temui. Walau hati kecilnya tidak menginginkan memiliki anak waria, Kurtini tetap berusaha menerima dan mendukung apapun keadaannya. Agama, norma, serta omongan masyarakat tidak lagi menjadi kendala Kurtini untuk terus menyayangi anaknya. Karena Kurtini ingin anak-­?anaknya bahagia.

Anggun terus berusaha menjadi diri sendiri dan hidup indah dalam stigma.

Di usianya yang sudah lanjut, Kurtini sangat ingin sekali menemui anak pertamanya yang sudah 6 tahun tidak ditemuinya. Untuk pertama kalinya Kurtini terbang dari Jambi ke Jakarta menemui anaknya. Seminggu hidup bersama, Dalam ruang kost-­?an di sudut Jakarta, Mereka bernostalgia dan berbagi kisah selama berpisah. Meskipun Kurtini berusaha menasihati, Anggun tetap ingin mewujudkan keinginannya untuk merubah diri menjadi lebih cantik. Film Emak dari Jambi menggambarkan kerinduan seorang ibu dengan anaknya.

PROFIL

ANGGUN PRADESHA lahir di JAMBI, 29 Tahun Silam. Selesai SMK, Sempat beberapa kali kerja di sektor informal, namun pilihan kerja mulai berkurang setelah memutuskan untuk total menjalani takdir sebagai Waria. 1 Tahun bekerja sebagai Pekerja seks Jalanan di Jambi, 2 tahun di Bandung, dan 2 tahun di Taman Lawang, Jakarta. Kemudian menemukan dunia baru sebagai Aktivis Volunteer dalam Issue Waria, Feminist, Gender, Seksualitas dan HAM. Hingga terakhir bekerja sebagai Staff Keuangan di SANGGAR SWARA, sebuah LSM Pemberdayaan utk komunitas waria muda di Jakarta. Karena ketertarikan pada Sastra, khususnya Puisi, Anggun pernah beberapa kali d iminta menjadi kontributor tulisan untuk jaringan LGBT.

Rikky M. Fajar lahir dan besar di Jakarta. Mengambil studi S1 Penyiaran di Stikom Interstudi pada Tahun 2004. Setelah 5 tahun memproduksi mengupload lebih dari 200 video pendek terkait seksualitas dan gender di youtube, kini Rikky bekerja freelance media.

PRODUCER NOTE – NIA DINATA

Biasanya film dokumenter tentang waria, bercerita dari perspektif si waria sebagai tokoh utama. Tapi kali ini, di film “Emak Dari Jambi” justru kita fokus pada perspektif si Ibu Kurtini, yang memiliki anak waria, dalam proses menerima jati diri anaknya apa adanya

Ibu kurtini, tinggal di Jambi dan mencintai musik-­?musik melayu, jadi dalam memilih soundtrack film dokumenter ini saya terpikir untuk meriset tentang orker lagu melayu, dengan bantuan Kiki Febriyanti saya menemukan link lagu dari band SEMAKBELUKAR yang musiknya luar biasa indah dan liriknya sangat puitis tentang perbedaan. Lagu berjudul “Be(Re)ncana” dan “Malas Marah” yang ditulis oleh David Hersya yang ada di http://yesnowave.com, jadi kami berencana untuk memakai lagu-­?lagu tersebut untuk original soundtrack film ini.

PRODUCTION NOTES

Production Supervisors : Sammaria Simanjuntak dan Nia Dinata

Consultants                           : Abduh Aziz dan Myra Diarsi

Director of Photography      : Sesarina Puspita

Music Director                      : Nia Dinata

Editor                                      : Aji Pradityo

Excevutive Producer             : Constantin Papad imitriou

Duration                                : 38 menit

Shooting day                         : Februari 2015 (9 Hari)

Post-­?Production                 : April 2015

Poster designer                    : Fadil Timorindo

 

You are here: Our Programs Our Films Project Change! 2013 "EMAK DARI JAMBI"