ja-cpanel-top
English (United Kingdom)Indonesia

Project Change! 2013 "NYALON"

E-mail Print PDF

SINOPSIS

Sepasang suami-istri, Dini dan Kardi, sehari-hari mencari nafkah dengan membuka usaha salon di Wates, Kulonprogo, Yogyakarta. Salon yang dibuka oleh Dini berlokasi di dalam Pasar Wates sementara salon yang dibuka oleh Kardi berada 200 meter dari pasar. "Dini Salon" buka setiap hari dari jam 6 pagi hingga 5 sore, melayani pelanggan yang umumnya penjual dan pembeli pasar sedangkan "Kardi Salon" buka setiap hari dari jam 8 hingga 9 malam. Keduanya melayani pelanggan pria dan wanita.

Menjelang pemilihan legislatif dan pemilihan umum 2014, media masa ramai dengan perbincangan soal gejolak harga bahan pokok dan pengharapan akan pemerintahan yang lebih baik melalui wakil-wakil rakyat yang terpilih. Di dalam Dini Salon dan Kardi Salon pelanggan laki-laki dan perempuan dari beragam kelas ekonomi dan status sosial mengungkapkan pendapat yang apa adanya tentang aktifitas "nyalon" (mencalonkan diri menjadi wakil rakyat) yang sedang berlangsung.

Riuhnya kampanye pemilihan calon legislatif disikapi dengan tenang dan santai oleh para pelanggan Dini Salon dan Kardi Salon sedangkan hiruk pikuk kampanye pemilihan calon presiden sempat memunculkan dialog-dialog yang panas-dingin. Meski demikian, perbedaan pendapat dan pilihan kubu ternyata tidak mempengaruhi hubungan yang akrab diantara Dini dan Kardi dengan pelanggan-pelanggannya.

Screening Perdana NYALON yang diadakan di blitzmegaplex Grand Indonesia juga diramaikan dengan “MURAL Interaktif Suara Rakyat Gemesss” oleh RHARHARHA and Friends. Andi RHARHARHA adalah seorang Street Art and Tape Artist.

FILM DOKUMENTER “NYALON” REFLEKSI HIRUK PIKUK DEMOKRASI ANTARA NYALON RAMBUT ATAU NYALON POLITIK.

“NYALON” diproduseri oleh Nia Dinata yang sejak awal sangat tertarik dengan ide seorang sutradara perempuan muda asal Yogyakarta yaitu Ima Puspita Sari. Berangkat dari keseharian sepasang suami istri yang memiliki salon-salon di pasar tradisional Wates, Yogyakarta. Pelanggan-pelanggan mereka juga ada yang mencalonkan dirinya sebagai wakil rakyat di DPRD. Sebagian besar pelanggan rajin curhat soal kehidupan rumah tangga sampai kehidupan politik sebagai warga negara yang antusias berpatisipasi dalam Pileg, maupun Pilpres 2014. Banyak cerita sederhana namun unik dan menarik yang terekam dalam "Nyalon". Ima sebagai sutradara sangat kooperatif dan mampu membaur dengan masyarakat sekitar dan pelanggan salon sehingga para nara sumber merasa nyaman dan tidak canggung dengan keberadaan kamera yang merekam aktivitas mereka.

Kondisi politik bangsa Indonesia yang terus bergulir, menjadikan kisah-kisah dalam film dokumenter "Nyalon" juga ikut terus berkembang, penuh humor dan semakin menarik dan merefleksikan euphoria politik dikalangan rakyat. Apa yang terjadi pada tingkat politik elit ternyata bisa berbeda dengan yang terjadi pada tingkat akar rumput.

"NYALON" merupakan hasil program Masterclass Workshop Project Change! 2013 yang diinisiasi oleh Nia Dinata dan Kalyana Shira Foundation dengan dukungan penuh dari The Ford Foundation, diadakan dari tanggal 18 Desember hingga tanggal 21 Desember 2013. Project Change! yang pertama telah menghasilkan omnibus film dokumenter "Pertaruhan" dan yang kedua menghasilkan omnibus film dokumenter "Working Girls". Workshop Project Change! ketiga tahun 2013 ini diikuti oleh 30 peserta terpilih dari wilayah Aceh, Bali, Lombok, Jakarta, Medan, Papua, Tasikmalaya, Purbalingga, Yogjakarta, dan Bandung.

PRODUCTION NOTES

Produser :  Nia Dinata

Sutradara :  Ima Puspita Sari

Supervisi Produksi :  Lucky Kuswandi, Ucu Agustin, Sammaria

Simanjuntak

Konsultan : Abduh Aziz, Myra Diarsi

Director of Photography :  Bayu Prihantoro Filemon

Musik : Clement Felix Setiawan

Editor :  Akhmad Fesdi Anggoro

Eksekutif Produser : Constantin Papadimitriou

Durasi :  40 menit

Shooting day : April 2014 – Juli 2014

Post-Production : Agustus 2014 – Oktober 2014

Ilustrasi Poster : Senja Aprela Agustin

Desain Poster : Gamaliel W. Budiharga

DIRECTOR STATEMENT – IMA PUSPITA SARI

Ruang-ruang seperti salon ternyata dibutuhkan orang bukan sekedar memenuhi kebutuhan jasa yang ditawarkan. Telinga yang setia mendengarkan dan teman berdialog yang setara ternyata dirindukan untuk rekreasi di tengah hiruk pikuknya kehidupan. Pasar dan Salon adalah dua ruang yang menarik bagi saya. Perjumpaan-perjumpaan yang singkat dan hangat, dialog-dialog sederhana dan jujur menjadi hal yang membuat telinga saya berdiri dan mata saya berbinar. Kemarin, ketika suasana politik panas-dingin, berada di kedua ruang itu bagi saya adalah rekreasi.

PROFIL IMA PUSPITA SARI

Ima lahir dan besar di Jogja. Menyelesaikan studi S1 jurusan Ilmu Komunikasi Universitas Atma Jaya Jogja dan studi S2 jurusan kajian media Universitas Gadjah Mada Jogja. Saat ini bekerja sebagai salah satu koodinator di Yayasan Kampung Halaman.

PRODUCER STATEMENT – NIA DINATA

Kita tidak harus jadi politisi untuk belajar politik. Bangsa Indonesia tidak boleh lagi buta politik. Lewat film pembelajaran menjadi cair, santai, namun, mengena. Nyalon adalah film dokumenter yang membawa kita pada relaita yang terjadi di grassroot (akar rumput). Apapun jegal menjegal yang terjadi di elit politik ternyata berbeda dengan kondisi kearifan lokal yang dibuktikan lewat film ini bahwa perbedaan harus dihargai, tapi tetap harus disikapi dengan semangat persatuan.

You are here: Our Programs Our Films Project Change! 2013 "NYALON"